psikologi penyesalan

mengapa kita lebih sedih saat hampir menang daripada kalah telak

psikologi penyesalan
I

Bayangkan kita sedang berlari terengah-engah di bandara. Keringat bercucuran. Tas punggung memukul-mukul punggung kita. Saat sampai di depan gerbang keberangkatan, petugas tersenyum penuh simpati dan berkata, "Maaf, pintu pesawat baru saja ditutup dua menit yang lalu."

Rasa sesaknya luar biasa, bukan?

Sekarang, mari kita putar ulang skenario tersebut. Kita terjebak macet total berjam-jam. Kita tiba di bandara saat pesawat kita sudah lepas landas dua jam yang lalu.

Secara logika murni, hasil akhirnya sama persis. Kita sama-sama tertinggal pesawat. Kita sama-sama harus membeli tiket baru. Namun, pernahkah teman-teman menyadari bahwa rasa sakit dan penyesalan di skenario pertama terasa jauh lebih menyiksa?

Kalah telak sering kali terasa lebih mudah diterima daripada hampir menang. Rasa "nyaris" itu menghantui kita. Mengapa otak kita bereaksi seaneh ini? Secara matematis, kalah ya kalah. Namun secara psikologis, otak kita ternyata bermain di wilayah yang jauh lebih gelap dan rumit. Mari kita bongkar bersama fenomena ini.

II

Untuk memahami keanehan ini, kita harus mundur sejenak dan melihat panggung paling emosional di dunia: podium Olimpiade.

Pada tahun 1995, para psikolog dari Cornell University melakukan sebuah studi yang kini menjadi legenda. Mereka mengumpulkan rekaman wajah para atlet peraih medali sesaat setelah pertandingan usai. Mereka lalu meminta sekumpulan sukarelawan untuk menilai ekspresi para atlet tersebut dari skala 1 (sangat menderita) hingga 10 (sangat bahagia).

Hasilnya sangat tidak masuk akal.

Peraih medali emas tentu saja berada di puncak kebahagiaan. Namun, kejutan terjadi pada peraih perak dan perunggu. Para peraih medali perunggu—orang-orang yang berada di urutan ketiga—terlihat berseri-seri, menangis haru, dan penuh perayaan. Sebaliknya, para peraih medali perak—orang-orang yang secara objektif lebih hebat dan mengalahkan peraih perunggu—justru menatap kosong, menggertakkan gigi, dan tampak sangat terpukul.

Bagaimana mungkin orang yang prestasinya lebih rendah justru merasa lebih bahagia?

Ternyata, rahasianya bukan terletak pada apa yang terjadi di dunia nyata. Rahasianya terletak pada dunia imajinasi yang diam-diam diciptakan oleh otak kita tanpa kita sadari.

III

Dalam ilmu psikologi, fenomena yang kita alami di bandara dan di podium Olimpiade tadi memiliki nama resmi: counterfactual thinking atau pemikiran berlawanan dengan fakta.

Otak manusia adalah mesin simulasi yang luar biasa canggih. Saat menghadapi suatu kejadian, otak tidak hanya memproses apa yang sedang terjadi. Di bagian otak depan kita, tepatnya di orbitofrontal cortex, miliaran neuron sibuk menciptakan realitas alternatif. "Bagaimana seandainya begini?", "Coba kalau saya tadi begitu."

Ada dua jenis simulasi yang otak kita buat. Pertama, downward counterfactual. Ini adalah saat kita membandingkan nasib kita dengan skenario yang lebih buruk. Inilah yang dilakukan si peraih medali perunggu. Otaknya berbisik, "Astaga, saya hampir saja tidak naik podium. Untung saya mengalahkan orang keempat!" Hasilnya? Rasa lega dan syukur.

Kedua, upward counterfactual. Kita membandingkan kenyataan dengan skenario yang jauh lebih baik. Inilah kutukan si peraih medali perak, dan kutukan kita yang tertinggal pesawat beda dua menit. Otak kita berbisik, "Saya cuma butuh sepersekian detik lebih cepat untuk dapat emas."

Ketika kita kalah telak—misalnya tertinggal pesawat dua jam atau kalah skor 0-10—otak kita kesulitan membangun jembatan imajinasi menuju kemenangan. Jaraknya terlalu jauh. Jadi, kita lebih cepat pasrah. Tapi saat kita hampir menang, jembatan imajinasi itu begitu dekat. Kita seolah bisa menyentuhnya.

Pertanyaannya kemudian menjadi sedikit mengganggu. Jika membayangkan "hampir menang" itu menimbulkan rasa sakit emosional yang luar biasa, mengapa evolusi mempertahankan mekanisme ini? Mengapa otak kita seolah sengaja menyiksa kita? Pasti ada rahasia besar di balik rasa sakit ini.

IV

Di sinilah letak kejeniusan desain biologis kita. Bersiaplah, karena fakta ini mungkin akan mengubah cara kita melihat kegagalan selamanya.

Otak kita sebenarnya sama sekali tidak berniat menyiksa kita. Rasa sakit dari "hampir menang" itu adalah sebuah fitur kelangsungan hidup, bukan bug atau kecacatan sistem.

Dalam ilmu saraf, ada konsep yang disebut dopamine prediction error atau kesalahan prediksi dopamin. Dopamin adalah senyawa kimia yang membuat kita merasa termotivasi dan bahagia. Saat kita hampir menang, otak kita mendeteksi bahwa tujuan sudah sangat dekat. Kegagalan di titik ini memicu penurunan dopamin yang sangat drastis, yang kita rasakan sebagai penyesalan mendalam.

Mengapa harus sesakit itu? Karena rasa sakit adalah stabilo alami milik otak.

Evolusi mendesain rasa sesak itu sebagai peringatan tingkat tinggi: "Hei, kita sudah sangat dekat! Jangan ubah semua strategi, cukup perbaiki satu kesalahan kecil tadi, dan besok kita pasti menang!"

Jika nenek moyang kita gagal total berburu singa, otak akan berkata, "Lupakan, singa terlalu kuat." Tapi jika tombak mereka meleset beberapa sentimeter saja dari jantung singa, otak akan menghukum mereka dengan rasa penasaran dan penyesalan yang tajam. Tujuannya? Agar besok mereka kembali berburu dengan bidikan yang sedikit lebih tinggi.

Penyesalan karena nyaris menang adalah cara otak memaksa kita melakukan perbaikan mikro (micro-corrections). Rasa sakit itu murni berfungsi sebagai perangkat lunak pembelajaran adaptif.

V

Mari kita bawa pemahaman ini kembali ke realitas sehari-hari kita.

Mungkin baru-baru ini teman-teman gagal dalam wawancara kerja di tahap paling akhir. Mungkin kita kalah tender di saat-saat penentuan. Atau mungkin cinta kita ditolak padahal kita merasa sudah sangat dekat dengan hati orang tersebut.

Wajar jika kita merasa hancur. Wajar jika dada terasa sesak. Secara kimiawi, otak kita sedang membombardir kita dengan sinyal kehilangan atas sesuatu yang bahkan belum benar-benar kita miliki.

Namun sekarang kita tahu kebenarannya. Kita tidak sedang dihukum oleh alam semesta. Kita sedang diperbarui.

Lain kali, ketika rasa penyesalan akibat "nyaris" itu datang menghampiri, biarkan saja rasa itu mengalir sejenak. Rangkul rasa tidak nyamannya. Lalu katakan pada diri kita sendiri: "Rasa sakit ini hadir karena saya sudah sangat dekat. Jauh lebih dekat dari sebelumnya."

Kita tidak kalah telak. Kita hanya butuh satu langkah kecil lagi. Dan percayalah, otak kita sedang mempersiapkan kita untuk lompatan emas berikutnya. Mari kita terus melangkah, teman-teman. Kemenangan itu sudah di depan mata.